Kamis, 07 April 2011

Cara-Cara Menjaga Harta Bumi Asli Indonesia

Bumi memiliki harta karun yang berlimpah. Yup! Harta itu berupa kekayaan alam yang dibutuhkan manusia. Tetapi kalau manusia terus mengambilnya, harta itu bisa habis dan punah. Alam jadi rusak dan banyak terjadi bencana. Termasuk global warming yang melanda dunia! Duh, ngeri... Apa yang harus kita lakukan, ya?

Eh, ternyata kita bisa belajar dari suku-suku pedalaman negeri kita. Mereka punya ilmu rahasia menjaga harta bumi!

1. Ilmu Sasi

Meski memanfaatkan kekayaan laut, masyarakat Maluku dan Papua tidak serakah mengambil hasil laut. Mereka punya sistem Sasi. Sistem Sasi adalah pengaturan waktu bagi penduduk setampat untuk mengambil hasil laut di wilayah adatnya. Penduduk hanya boleh menangkap ikan pada saat-saat tertentu. Dengan demikian, flora dan fauna laut bisa memperbarui diri dan berkembang biak dengan baik.

2. Ilmu Tiga Hutan

Bagi Suku Sakai di Riau, hutan merupakan harta yang harus dirawat sebaik-baiknya. Suku Sakai membagi wilayah hutan mereka menjadi hutan adat, hutan larangan, dan hutan perladangan. Di hutan adat, penduduk hanya boleh mengambil rotan, damar, dan madu lebah, tanpa menebang pohonnya. Sedangkan hutan larangan sama sekali tidak boleh diusik. Sementara hutan perladangan boleh ditebang untuk dijadikan ladang. Tapi awas... tak semua pohon boleh ditebang! Misalnya pohon sialang yang merupakan tempat bersarangnya lebah madu.

Penduduk yang melanggar aturan akan dihukum. Misalnya didenda atau diusir dari wilayahnya. Hukuman berlaku untuk semua orang. Bahkan seorang bathin atau kepala suku yang tertangkap melanggar aturan, akan dicopot dari kedudukannya.

3. Ilmu Pamali

Pamali artinya tabu atau tidak boleh. Aturan ini tidak tertulis, tetapi sangat dipatuhi oleh masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya. Penduduk Kampung Naga percaya, jika melanggar adat, hidupnya tidak bakal selamat. Peraturan tersebut di antaranya tidak boleh mengusik Leuweung Larangan atau Hutan Larangan. Karena itu penduduk membiarkan pohon tumbang di hutan sampai membusuk. Mereka juga tidak berani menangkap binatang di hutan. Pamali membuat hutan mereka tetap lestari.

4. Ilmu Perladangan Gilir Balik

Suku Dayak Bantian di Kalimantan Timur menanam padi, sayuran, rotan, dan buah-buahan di hutan. Mereka menggunakan sistem perladangan gilir balik. Mereka membuka hutan untuk dijadikan ladang selama dua tahun. Setelah itu mereka mencari ladang baru, dan membiarkan ladang lama menjadi hutan kembali. Begitu seterusnya.

Tak semua hutan boleh dijadikan ladag. ada wilayah hutan yang hanya boleh diambil hasilnya. Buah-buahan hutan yang tidak termakan oleh penduduk, dibiarkan di hutan agar dimakan oleh satwa liar.

5. Ilmu Pikukuh

Pikukuh bagi masyarakat Badui di Banten adalah aturan yang harus ditaati oleh warganya. Juga oleh pengunjung yang datang. Aturan itu antara lain, dalam pertanian dilarang menggunakan teknologi kimia seperti pupuk buatan dan racun pemberantas hama.

Penduduk juga dilarang menubai atau meracuni ikan di sungai, mandi memakai sabun, gosok gigi dengan pasta gigi, membuang kotoran di sembarang tempat, dan lain sebagainya. Pikukuh membuat penduduk hidup berdampingan dengan alam. Mereka tak mau mencemari alam dan berusaha menjaga kebersihan serta kemurnian alamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar